OPM Vol 27: Amukan Tatsumaki dan Kiamat Visual

OPM Vol 27: Amukan Tatsumaki dan Kiamat Visual

OPM Vol 27 Jika ada satu manga yang layak disebut sebagai “Blockbuster Musim Panas” dalam bentuk kertas, itu adalah One-Punch Man. Kolaborasi antara penceritaan komedi-aksi ONE dan seni tingkat dewa Yusuke Murata telah lama menetapkan standar emas untuk ilustrasi manga. Namun, di Volume 27, Murata seolah berkata kepada seluruh industri manga: “Lihat apa yang bisa kulakukan.”

Volume ini mencakup puncak dari arc Asosiasi Monster yang telah berjalan panjang. Pertarungan tidak lagi terjadi di lorong-lorong bawah tanah yang sempit, melainkan meledak ke permukaan dengan skala yang mengancam struktur tektonik Bumi. Fokus utamanya bukan pada Saitama, melainkan pada pahlawan Kelas-S Peringkat 2: Tatsumaki (Tornado of Terror). Ini adalah volume di mana batas kekuatan (power scaling) dalam seri ini didorong hingga ke titik absurditas yang memukau. (casino)

Tatsumaki: Definisi Bencana Alam

Selama ini, Tatsumaki sering digambarkan sebagai gadis mungil yang sombong, pemarah, dan memperlakukan orang lain seperti sampah. Namun, Volume 27 adalah panggung pembuktian mengapa dia adalah pahlawan terkuat kedua di dunia (secara resmi).

Menghadapi fusi mengerikan antara Psykos dan Raja Monster Orochi (“Psykorochi”), Tatsumaki tidak hanya bertarung; dia mengubah topografi peta. Momen paling ikonik di volume ini—dan mungkin salah satu panel paling gila dalam sejarah manga—adalah ketika Tatsumaki memutuskan untuk “memeras” markas musuh. Dia mengangkat seluruh Distrik Z, memilin struktur kota dan menara bawah tanah raksasa seolah-olah itu hanyalah kain basah, demi menghancurkan tubuh musuh yang bersembunyi di celah-celah bangunan.

Murata menggambarkan adegan ini dengan detail arsitektural yang presisi namun kacau. Kita melihat gedung-gedung pencakar langit bengkok, jalanan terlipat, dan puing-puing beterbangan dalam skala makro. Ini bukan sekadar telekinesis; ini adalah bencana alam yang dikendalikan oleh satu pikiran manusia. Volume ini juga memberikan kedalaman pada karakter Tatsumaki, menunjukkan bahwa di balik arogansinya, dia sangat memprioritaskan keselamatan adiknya, Fubuki, dan pahlawan lain sebelum melepaskan kekuatan penuhnya.

Skala Kehancuran: Membelah Kerak Bumi

Antagonis utama volume ini, Psykorochi, juga tidak main-main. Fusi ini tidak hanya besar; ia memiliki kekuatan yang melampaui logika. Salah satu adegan yang membuat pembaca menahan napas adalah ketika Psykorochi menembakkan sinar energi yang memotong sebagian kerak bumi.

Panel yang menggambarkan potongan bumi yang terangkat ke atmosfer adalah mahakarya visual. Murata menggambar lengkungan bumi, lapisan awan yang terbelah, dan samudra yang bergolak dengan realisme yang menakutkan. Skala pertarungan di One-Punch Man sering kali besar, tetapi momen ini menaikkan taruhannya dari “menghancurkan kota” menjadi “mengubah geografi benua”. Ini memberikan sensasi bahaya yang nyata, sesuatu yang sulit dicapai dalam seri yang protagonis utamanya (Saitama) tidak bisa terluka. Kita tahu Saitama aman, tapi kita tidak yakin apakah Bumi itu sendiri bisa selamat dari pertempuran para titan ini.

Genos: Mode Sepuluh Detik OPM Vol 27

Di tengah pertarungan para raksasa psikis, murid Saitama, Genos, mendapatkan momen bersinarnya. Sering kali dijadikan lelucon sebagai “Seni Modern” (karena tubuhnya selalu hancur menjadi rongsokan artistik), kali ini Genos tampil sebagai powerhouse sejati.

Demi melindungi Tatsumaki yang mulai kelelahan, Genos mengaktifkan mode terlarang: “Ten Seconds Mode” (Blue Dragon). Desain upgrade tubuh Genos kali ini terlihat sangat garang, penuh dengan ventilasi energi dan pelat baja tajam. Interaksinya dengan Tatsumaki sangat menarik; untuk pertama kalinya, Tatsumaki mengakui keberadaan Genos bukan sebagai beban, tetapi sebagai bantuan yang berguna. Visualisasi sinar incineration cannon Genos yang membelah serangan Psykorochi digambar dengan efek pencahayaan (lighting) dan partikel yang begitu intens hingga pembaca seolah bisa merasakan panasnya keluar dari halaman kertas.

Komedi Saitama: Penyeimbang Nada

Tentu saja, One-Punch Man tidak akan lengkap tanpa komedi datarnya. Sementara dunia di atas sedang kiamat, Saitama masih terjebak di bawah tanah bersama pahlawan Flashy Flash dan monster bermata satu yang kocak, Manako.

Subplot ini berfungsi sebagai palate cleanser (pembersih lidah) yang penting. Di tengah ketegangan tinggi dan kehancuran massal, melihat Saitama dan Flashy Flash berdebat soal hal sepele atau melihat Manako panik memberikan jeda napas yang dibutuhkan pembaca. Ini juga menjadi pengingat ironis bahwa makhluk terkuat di alam semesta sedang sibuk mencari jalan keluar dari reruntuhan sambil membawa senter, sementara orang-orang yang jauh lebih lemah darinya sedang bertarung mati-matian di atas.

Kualitas Seni Yusuke Murata

Membahas Volume 27 tanpa memuja seni Yusuke Murata adalah dosa. Kualitas gambar di volume ini berada di level yang tidak masuk akal untuk sebuah terbitan berkala. Penggunaan double-page spread (gambar dua halaman penuh) sangat dominan di sini.

Murata memiliki pemahaman yang luar biasa tentang skala dan perspektif. Dia bisa menggambar semut di tanah dan pesawat luar angkasa di langit dengan tingkat detail yang sama tingginya. Arsiran, penggunaan tinta hitam pekat untuk menggambarkan energi psikis, dan komposisi panel yang memandu mata pembaca mengikuti alur kehancuran, semuanya dieksekusi dengan sempurna. Membaca volume fisik atau digital resolusi tinggi adalah keharusan untuk benar-benar mengapresiasi setiap goresan tintanya.

Kesimpulan OPM Vol 27

One-Punch Man, Vol. 27 adalah tontonan visual murni. Dari segi narasi, mungkin volume ini terasa “hanya berisi satu pertarungan panjang”, tetapi eksekusi pertarungan tersebut begitu megah hingga Anda tidak akan peduli.

Volume ini menegaskan dominasi S-Class Hero dan menetapkan standar baru untuk genre manga aksi. Jika Anda ingin melihat sejauh mana batas kemampuan seorang seniman manga dalam menggambarkan kehancuran total, volume ini adalah kitab sucinya. Amukan Tatsumaki bukan hanya memilin kota, tetapi juga memilin ekspektasi kita tentang seberapa epik sebuah manga shonen bisa ditampilkan.

review komik lainnya ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *