Review Komik Busamen Gachi Fighter. Di akhir 2025, ketika komedi absurd lagi naik daun, Busamen Gachi Fighter diam-diam jadi salah satu manhwa paling kocak yang bikin orang ngakak sampai batuk. Cerita tentang cowok jelek muka (busamen) bernama Kang Daegun yang tiba-tiba dapat sistem “fighter” dan harus naik level lewat pukul-pukulan, sudah lewat 120 chapter dan masih rutin bikin pembaca jatuh dari kursi. Bukan komik action serius, bukan juga romcom biasa, tapi perpaduan sempurna antara muka hancur, otot buncit, dan humor yang nggak punya rem. REVIEW FILM
Premis Bodoh yang Jenius: Review Komik Busamen Gachi Fighter
Kang Daegun adalah definisi busamen: muka kotak, gigi tonggos, badan buncit, tapi hatinya murni. Suatu hari dia dipukuli preman, lalu muncul sistem ala game yang bilang “Selamat, kamu sekarang Fighter. Naik level dengan memukul orang.” Alih-alih jadi tampan atau OP instan, setiap naik level justru bikin mukanya makin rusak, ototnya makin aneh, dan aura jeleknya makin kuat. Tujuan utamanya? Bukan jadi terkuat, tapi jadi “cowok jelek paling disegani di dunia”. Premis ini terdengar ngaco, tapi dari chapter satu langsung nancap karena penulis nggak takut bikin protagonisnya benar-benar nggak ada harapan secara visual.
Komedi Fisik yang Brutal: Review Komik Busamen Gachi Fighter
Humor di sini 90% dari ekspresi muka dan body language. Tiap Daegun naik level, ada panel close-up muka yang berubah jadi makin mengerikan sambil dia sendiri bangga “Wah, aku tambah macho!”. Lawan-lawannya biasanya cowok ganteng dengan rambut klimis, tapi selalu kalah karena terlalu takut sama aura jelek Daegun. Adegan favorit pembaca: turnamen underground di mana Daegun lawan petarung tampan, lalu menang cuma karena lawannya pingsan duluan gara-gara bau badan level 50. Gambarnya sederhana, tapi timing panel dan deformasi wajahnya presisi banget—nggak heran tiap chapter baru langsung banjir komentar “meninggal”.
Karakter Pendukung yang Sama Gila: Review Komik Busamen Gachi Fighter
Daegun nggak sendirian. Ada sahabatnya si culun yang jadi manajer, cewek sekolah yang awalnya jijik tapi pelan-pelan naksir karena Daegun baik banget, dan rival abadinya si “pretty boy” yang selalu kalah telak tapi tetep sombong. Yang bikin lucu, semua orang tahu Daegun jelek, tapi nggak ada yang berani bilang langsung karena takut dipukul. Bahkan bos yakuza terkuat di kota akhirnya jadi fans berat dan manggil dia “Hyung-nim” dengan muka pucat. Chemistry antar karakter terasa alami karena semua orang bereaksi realistis terhadap level jelek yang terus naik.
Pesan Ringan di Balik Ketawa
Di balik lelet-lelet mukanya, cerita ini sebenarnya ngomongin “terima diri apa adanya”—tapi versi paling ekstrim. Daegun nggak pernah pengen operasi plastik atau jadi ganteng; dia malah bangga setiap kali sistem kasih title baru kayak “Raja Busamen” atau “Manusia Paling Menakutkan di Korea”. Romantismenya juga lucu: cewek yang suka dia bukan karena muka, tapi karena dia selalu lindungi orang lemah meski mukanya bikin anak kecil nangis. Di chapter terbaru 2025, Daegun bahkan tolak tawaran sistem buat “reset penampilan” demi tetap jadi dirinya sendiri. Pesan klise, tapi dikemas dengan cara yang bikin pembaca malah salut sambil ketawa.
Kesimpulan
Busamen Gachi Fighter adalah komik yang nggak pura-pura pintar, tapi entah kenapa bikin pembaca merasa lebih baik setelah baca. Ia bukti bahwa komedi fisik masih bisa hidup di era manhwa penuh plot twist berat. Kalau lagi stres atau butuh ketawa sampai perut sakit, buka dari chapter satu, siapkan air putih biar nggak dehidrasi, dan nikmati perjalanan cowok paling jelek yang akhirnya jadi legenda. Karena kadang, muka hancur justru jadi senjata paling mematikan. Dan itu, teman-teman, jauh lebih lucu daripada jadi ganteng biasa.